Fingers and lips

There’s a lot of unspoken things. We could write it on something like papers, blogs, books, stones, walls or anything else. But sometimes it’s highly better to talk it over.

(Source: ganeshaturbaga)

for me, it’s more than a sin.

V E G A: Ayah

panjoelsyndrom:

Kita tak pernah benar-benar dekat. Kecuali kau yang terus memaksakan petuah-petuahmu untuk melekat di kepalaku, kita memang tak pernah benar-benar dekat. Aku mengenalmu sebagai seorang zalim, seorang pemarah yang lekas.

Kau tak pernah hadir ketika aku mengalami beberapa peristiwa sentimentil sebagai laki-laki. Kau tak pernah ada di kala aku sendirian, benar-benar sendirian, dan tak tahu mesti menjawab apa terhadap kenyataan. Kau selalu marah, selalu marah karena apapun.

Dunia begitu kecil di matamu. Dan aku hanyalah omong kosong.

Karena terlalu dekat dengan kemarahan(mu) sedari dulu, hingga kini aku menjadi laki-laki yang memilih sendiri. Meski hidupku adalah borjuasi kelas teri, aku selalu bertubrukan dengan kenyataan bahwa aku laki-laki sendirian. Kau adalah contoh yang salah, kau gagal. Kau adalah pengecut berdada sempit yang tidak pernah bersedia meminta maaf padaku.

Sebagai contoh yang semestinya kutiru, kau hanya menyisakan kemarahan padaku, hanya memberikan seutas tali untuk aku jika hendak mati. Tapi aku memilih bertarung: aku tak mau menjadi dirimu.

Seringkali aku kalah. Seringkali aku adalah laki-laki yang menyerupaimu. Laki-laki penuh marah, laki-laki sesak dendam. Dengan mengenalmu aku jadi mengeram marah. Semua marahku tertuju untukmu. Beberapa kali pernah kuledakkan, tak sekali dua kita benar-benar bermusuhan. Hingga aku lalu paham: (Ke)marah(an) hanya akan memperpanjang marah-marah yang lain.

Pertarungan belum selesai.

Kini kau renta. Segala-gala kemarahanmu pupus. Dulu kau marah karena cita-cita, karena hidup menuntut orang menjadi binatang yang saling sikut, saling adu. Kau gerus semua keringat untuk materi, untuk anak-anakmu, dan kau berhasil. Aku tak pernah sepenuhnya sulit untuk makan ayam goreng dan rendang. Selalu ada celana baru untuk lebaran.

Tapi materi selalu habis meski tanah yang kita gali adalah uang dan lembaran saham. Aku tak pernah memilikimu. Aku tak pernah mampu untuk menganggapmu sebagai teman dialog tentang perempuan atau hidup. Tak pernah.

Ya, kau kini renta. Asam urat menggerogotimu. Untuk tidur pun kau tersiksa. Sebagai orang yang sulit berdamai denganmu, aku mestinya tertawa lepas lepas. Dengan tidak lagi menjengukmu, aku merasa telah melakukannya. Tapi aku salah.

Membenci sesuatu sepanjang hayat hanya cocok untuk pria gagal yang tak sadar bahwa hidup akan selalu, dan terus selalu memberi banyak sekali pertanyaan dan jawaban secara bersamaan. Aku bukan pria gagal. Selama ini aku selalu merdeka dengan pilihanku. Pilihan yang bukan hadir karena aku seorang anak yang menjadikan ayahnya sebagai idola.

Dan karena sikapku yang selalu merasa manusia mestinya merdeka dengan pilihannya, aku memilih untuk membunuh habis semua kebencianku untukmu.

Hari ini kau lahir, dan esok bisa saja nafasmu stop di kasur reyot sebuah rumah sakit tanpa ada yang peduli denganmu. Entah untuk keberapa kalinya aku berkelahi dengan kebencianku padamu agar mulutku tersulur doa-doa untuk di setiap tanggal ini. Aku mencintaimu penuh seluruh. Aku berharap maut tidak datang cepat-cepat karena ada banyak cita-cita yang hendak kutunjukkan padamu. Cita-cita yang dulu gagal kau hadirkan untukku. Cita-cita yang kurawat benar-benar di dada.

Bukan untuk dendam, bukan untuk sakit hati yang menahun, tetapi agar kau kelak paham: kau berhasil mendidikku.

Kita tak pernah benar-benar dekat, tak akan pernah benar-benar dekat. Tapi kedekatan hanya soal merawat kehilangan yang entah datang kapan dengan sikap sentimentil yang konyol. Aku tak akan melakukannya. Karena aku tahu satu hal: kau selalu menjadi ayah yang terbaik untukku.

SUPER SEDIIIIIIIIIIIIIIIIIIH :(

every woman needs her man to fight and die for her

bisa banget ini video bikin nangis gede :(

@feriaan’s highest imagination =))

Debusnya @Ernawanalex :D

SELAMAT ULANGTAHUN BOS BESAR! I LOVE YOU!!!!

Ernawan Mulyana: sebuah nama yang tidak akan hilang dari ingatan dan seorang sosok yang akan selalu menjadi kebanggaan.

Mama, Keyko, Ina, Aldi.

The Boy in the Striped Pyjamas